Archive for Al-Sunnah

AL-Qurthuby

AL-JA<MI’ LI AHKA<M AL-QUR’A<N

WA AL-MUBAYYIN LIMA< TAD{OMMANAH

MIN AL-SUNNAH WA A<Y AL-FURQA<N

 

 

A. PENDAHULUAN

Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai Hudan li al-Na>s, petunjuk bagi segenap umat manusia. Akan tetapi petunjuk Al-Qur’an tersebut tidak dapat ditangkap maknanya bila tanpa adanya penafsiran. Itulah sebabnya, sejak Al-Qur’an diwahyukan hingga dewasa ini, gerakan penafsiran yang dilakukan oleh para ulama tidak ada henti-hentinya. Hal ini terbukti dengan banyaknya karya-karya para ulama yang dipersembahkan guna menyingkap dan menguak rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya dengan menggunakan metode dan sudut pandang yang berlainan.

Tafsir biasa diartikan dengan al-I>><d}ah} wa wa al-Tabyi>n, [1] menjelaskan dan menerangkan, atau lebih lengkapnya adalah suatu ilmu yang dengannya kitab Allah dapat dipahami, menerangkan makna-maknanya dan mengeluarkan hukum-hukum serta hikmah-hikmahnya.[2] Dapat juga diartikan dengan ilmu yang membahas Al-Qur’an al-Karim dari segi dalalahnya sejalan dengan apa yang dikehendaki Allah, dalam batas kemampuan manusia.[3] Dengan demikian secara sederhana, tafsir merupakan usaha manusia dalam memahami Al-Qur’antara.

Terkait dengan hasil karya ulama yang berupa tafsir-tafsir tersebut, kalangan peminat studi Al-Qur’an (tafsir) mengenal adanya istilah-istilah tarti>b (sistematika), Manhaj (metode), Laun (corak) dan T{ari>qah (aliran). Istilah-istilah tersebut digunakan untuk membantu memahami para pengkaji dan peminat studi ini ketika akan menetapkan kategori tertentu terhadap suatu hasil karya tafsir.

Salah dari sekian banyak tafsir yang ada adalah al-Ja<mi’ li Ahka<m Al-Qur’a<n wa al-Mubayyin Lima< Tad{ommana min al-Sunnah wa A<y al-Furqa><n karya al-Qurt}u>bi, sehingga karya ini sering disebut dengan nama Tafsi>r al-Qurt}u<bi. Para ahli memasukkannya dalam kategori tafsir corak hukum (fiqh). Bila ditengok ke belakang, kemunculan tafsir jenis ini bersamaan dengan corak tafsir bi al-Ma’thu>r, yaitu sejak zaman Nabi, karena sama-sama dinukil dari Nabi SAW. Pada masa itu, ketika salah seorang sahabat menemukan kesulitan dalam memahami hukum suatu ayat, mereka langsung bertanya kepada Nabi.[4] Kejadian seperti ini di satu pihak, dari sisi sumber disebut sebagai tafsir bi al-Ma’thu>r dan di pihak lain, di sisi muatan disebut sebagai tafsir fiqhi>.

Setelah Nabi SAW meninggal dunia, secara otomatis sandaran untuk menyatakan berbagai persoalan yang menyangkut pemahaman suatu ayat sudah tidak ada lagi. Sehingga dituntut kemandirian dalam memahami suatu ayat, maka tidak mengherankan bila saat itu muncul pelbagai perbedaan pemahaman terhadap suatu ayat di kalangan para sahabat. Sebagai contoh perbadaan yang terjadi ant Umar dan Ali mengenai masa iddah bagi seorang yang wanita ditinggal mati suaminya dalam keadaan hamil. Menurut Umar, iddahnya adalah menurut pilihan waktu yang lama antara melahirkan atau empat bulan sepuluh hari.[5]

Tafsir yang bercorak fiqh seperti ini terus berkembang bersama berkembangnya ijtihad. Perkembangan ini mendorong munculnya madzhab-madzhab fiqh. Tidaklah mengherankan jika masa-masa sesudahnya muncul beberapa tokoh yang mengkhususkan diri pada persoalan-persoalan fiqh dengan sudut pandang masing-masing. Tulisan ini akan membahas salah satu tafsir dari jenis ini dengan menggunakan ukuran istilah-istilah tersebut di atas.

B. SETTING HISTORIS-BIOGRAFIS AL-QURT{U<BI<

Penulis tafsir al-Qurt}u>bi bernama Abu> Abd Allah ibn Ahmad Ibn Abu Bakr Ibn Farh} al-Ans}a>ri> al-Khazraji> al-Qurt}u>bi> al-Ma>liki>.[6] Para penulis biografi tidak ada yang menginformasikan mengenai tahun kelahirannya, mereka hanya menyebutkan tahun kematian yaitu 671 H di kota Maniyyah ibn Hasib Andalusia. Ia dianggap sebagai salah seorang tokoh bermadzhab Maliki>.[7] Berdasarkan salah satu sumber, Hasbi al-S{iddiqi> menyebutkan bahwa ia lahir di Andalusia tahun 486 H dan meninggal di Mausul 567 H.[8]  namun informasi ini sangat lemah karena: pertama, Hasbi tidak menyebut sumber yang jelas dari mana ia memperoleh informasi tersebut. Kedua, kemungkinan besar ia salah kutip ketika ia menyebut tahun kelahiran ini, karena yang benar data tersebut adalah tahun kelahiran seseorang yang sama-sama dinisbahkan dengan nama al-Qurt}ubi>, tetapi ia bernama Abu Bakr Yah}ya Ibn Sa’id Ibn Tamam Ibn Muh}ammad al-Azdi> al-Qurt}u>bi>.[9] Informasi yang masih sangat lemah ini sempat dinukil begitu saja oleh tim penulis buku tafsir Al-Ja>mi’ah yang dibuat oleh Majlis Tafaqquh fi al-Di>n al-Islami> (MTFI).[10]

Aktifitasnya dalam mencari ilmu ia jalani secara serius di bawah bimbingan ulama yang ternama pada saat itu. Di antaranya adalah Syekh Abu al-Abbas Ibn Umar al-Qurt}u>bi> dan Abu> Ali al-Hasan Ibn Muh}ammad al-Bakri.[11] Beberapa karya penting yang dihasilkan al-Qurt}u>bi> adalah al-Ja>mi’ li Ah}ka>m Al-Qur’a>n, al-As}na> fi> sharh} asma> Allah al-H{usna>, Kita>b al-Taz{kirah bi ‘Umar al-A<khirah, Sharh} al-Taqassi>, Kita>b al-Tiz}ka>r fi> afd}al al-Az{ka>r, Qamh al-Hars bi al-Zuhud wa al-Qana’ah dan Arjuzah Jumi’atau Fiha> Asma’ al-Nabi>.[12]

C. KITAB AL-JA<MI’ LI AH{KA>M AL-QUR’A<N

1. Seputar Nama Kitab

Kitab tafsir ini sering disebut dengan nama Tafsi>r al-Qurt}u>bi>, hal ini dapat dipahami karena tafsir ini adalah hasil karya dari seorang yang punya nisbah nama al-Qurt}u>bi> atau bisa juga karena dalam halaman sampul kitabnya sendiri tertulis judul Tafsi>r al-Qurt}u>bi>, al-Ja>mi’ li Ah}ka>m Al-Qur’a>n.[13] jadi, tidak sepenuhnya salah apabila seseorang menyebut tafsir ini dengan sebutan tafsir al-Qurt}u>bi> tersebut. Judul lengkap tafsir ini adalah al-Ja>mi Li Ah}ka>m Al-Qur’a>n wa al-Mubayyin lima> tad}ammanah min al-Sunnah wa A<y al-Furqa>n yang berarti kitab ini berisi kumpulan hukum dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Didahului dengan kalimat Sammaitu bi…. (aku namakan).[14] Dengan demikian dapat dipahami bahwa judul tafsir ini adalah asli dari pengarangnya sendiri.

2. Tarti>b (Sistematika)

Dalam sistematika penulisan kitab tafsir dikenal adanya 3 sistematika: pertama, sitematika Mus}h}afi>[15] yaitu penyusunan kiatab tafsir dengan berpedoman pada susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam mus}h}af dengan memulai dari surat al-Fa>tih}ah, al-Baqarah dan seterusnya sampai surat al-Na>s. Kedua, sistematika Nuzu>li> [16] yaitu dalam menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan kronologis turunnya surat-surat Al-Qur’an. Contoh mufasir yang memakai sistematika ini adalah Muh}amad Izzah Darwazah dengan tafsirnya yang berjudul ­al-Tafsi>r al-H{adi>th.[17] Ketiga, sistematika Mawd}u>’i>, yaitu menfasirkan Al-Qur’an berdasarkan topik-topik tertentu dengan mengumpulkan ayat-ayat yang ada hubungannya dengan topik tertentu kemudian ditafsirkan.

Al-Qurt}u>bi> dalam menulis kitab tafsirnya memulai dari surat al-Fa>tih}ah dan diakhiri dengan surat al-Na>s. dengan demikian ia memakai sistematika Mus}h}afi>, yaitu dalam menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan urutan ayat dan surat  yang terdapat dalam mus}h}af.

3. Manhaj (metode)

Metode yang digunakan oleh Mufassir menurut al-Farma>wi dapat diklasifikasikan menjadi empat: pertama, metode Tah}li>li>, dimana dengan menggunakan metode ini mufassir berusaha menjelaskan seluruh aspek yang dikandung oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan mengungkapkan segenap pengertian yang dituju.[18] Keuntungan metode ini adalah peminat tafsir dapat dengan mudah menemukan pengertian secara luas dari ayat-ayat Al-Qur’an. Kedua, metode Ijma>li>, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an dijelaskan dengan pengertian-pengertian garis besarnya saja, contoh yang sangat terkenal adalah Tafsi>r al-Jala>lain.[19] Ketiga, metode Muqa>ra>n, yaitu menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan apa yang pernah ditulis oleh mufassir sebelumnya dengan cara membandingkannya. Keempat, metode Mawd}u>’i>, yaitu dimana seorang mufasir mengumpulkan ayat-ayat di bawah suatu topik tertentu kemudian ditafsirkan.[20]

Langkah-langkah yang dilakukan oleh al-Qurt}u>bi> dalam menafsirkan Al-Qur’an dijelaskan dengan rincian sebagai berikut:

  1. Memberikan kupasan dari segi bahasa.
  2. Menyebutkan ayat-ayat lain yang berkaitan dan hadith-hadith dengan menyebutkan sumbernya sebagai dalil.
  3. Mengutip pendapat ulama dengan menyebut sumbernya sebagai alat untuk menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengan pokok bahasan.
  4. Menolak pendapat yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.
  5. Mendiskusikan pendapat ulama dengan argumentasi masing-masing, setelah itu melakukan tarjih dan mengambil pendapat yang paling benar.

Langkah-langkah yang ditempuh al-Qurt}u>bi> ini masih mungkin diperluas dengan melakukan penelitian yang lebih seksama. Satu hal yang sangat menonjol adalah adnya penjelasan panjang lebar mengenai persoalan fiqhiyah merupakan hal yang sangat mudah ditemui dalam tafsir ini.

Dengan memperhatikan pembahasannya yang demikian mendetail, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa metode yang digunakannya adalah tah}li>li>, karena ia berupaya menjelaskan seluruh aspek yang terkandung dalam Al-Qur’an dan mengungkapkan segenap pengertian yang dituju. Sebagai sedikit ilustrasi dapat diambil contoh ketika ia menafsirkan surat al-Fa>tih}ah di mana ia membaginya menjadi 4 bab yaitu: bab Keutamaan dan nama surah al-Fatih}ah, bab turunnya dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, bab Ta’mi>n (bacaan A<mi>n), dan bab tentang qira>at dan I’ra>b. masing-masing dari bab tersebut memuat beberapa masalah.[21]

4. Lawn (Corak Tafsir)

            Al-Farma>wi membagi corak tafsir menjadi 7 macam, yaitu corak tafsir al-Ma’thu>r, al-Ra’yu, sufi>, fiqhi>, Falsafi>, ‘Ilmi>, dan ‘Adabi> Ijtima>’i>.[22] para pengkaji tafsir memasukkan karya al-Qurt}u>bi> ke dalam tafsir yang mempunyai corak (lawn) Fiqhi>, sehingga sering disebut tafsir ah}ka>m.[23] karena dalam menafsirkan Al-Qur’an lebih banyak dikaitkan dengan persoalan-persoalan hukum.

Sebagai contoh dapat dilihat ketika ia menafsirkan surah al-Fa>tih}ah, al-Qurt}u>bi> mendiskusikan persoalan-persoalan fiqh, terutama yang berkaitan dengan kedudukan Basmalah ketika dibaca dalam s}alat, juga persoalan bacaan fatih}ah makmum ketika s}alat Jahr. [24] terhadap ayat yang sama, para mufasir lain yang sama-sama dari kelompok mufasir ah}ka>m hanya membahasnya secara sepintas, seperti yang dilakukan oleh Abu> Bajr al-Jas}s}a>s. Ia tidak membahas surat ini secara khusus, tetapi hanya menyinggung dalam sebuah bab Qira>’ah al-Fa>tih}ah fi> al-Sala>f.[25] Ibn al-’Ara>bi> juga tidak membahas surat ini secara menyeluruh. Ia meningglkan penafsiran ayat al-Rah}ma>n al-Rah}i>m dan Ma>liki Yawm al-Di>n.[26]

Contoh lain di mana al-Qurt}u>bi> menjelaskan panjang lebar mengenai persoalan-persoalan fiqh dapat diketemukan ketika ia membahas Qs. Al-Baqarah (2): 43:

واقيموالصّلاة وأتواالزّكاة واركعوامع الرّاكعين…

Ia membagi pembahasan ayat ini menjadi 34 masalah. Di antara pembahasan yang menarik adalah masalah ke-16. ia mendiskusikan berbagai pendapat tentang status anak kecil yang menjadi Imam s}alat. Di antara tokoh yang mengatakan tidak boleh adalah al-Thawri>, Ma>lik dan As}h}a>b al-Ra’yi. Dalam masalah ini al-Qurt}u>bi> berbeda pendapat dengan maz}hab yang dianutnya, dengan pernyataannya:[27]

امامة الصّغيرجائزة اذاكان قارئا

(Anak kecil boleh menjadi Imam jika memiliki bacaan yang baik).

Begitupun ketika menafsirkan Qs. Al-Baqarah (2): 185:

شهررمضان الّذي انزل فيه القرأن هدىللنّاس وبيّنات من الهدى والفرقان

Pembahasan ayat ini dibaginya menjadi 21 masalah. Ketika memasuki pembahasan ke-17, ia mendiskusikan tentang s}alat idul Fitri yang dilaksanakan pada hari kedua. Ia berpendapat tetap boleh dilaksanakan, berbeda dengan pendapat Malik sebagai imam madzhabnya yang tidak memperbolehkan.[28]

Dalam kasus lain ketika ia menafsirkan Q.s Al-Baqarah (2): 187:

أحلّ لكم ليلة الصّيام الرّفث الى نسائكم…

            Ia membaginya menjadi 36 masalah. Pada pembahasan ke-12, ia mendiskusikan makannya orang yang lupa pada siang hari di bulan Ramadhan. Ia berpendapat orang tersebut tidak berkewajiban mengganti puasanya, berbeda dengan pendapat Malik sebagai imam madzhabnya.[29]

Bila dicermati dari beberapa contoh penafsiran di atas, di satu sisi menggambarkan betapa al-Qurt}u>bi> banyak mendiskusikan persoalan-persoalan hukum yang menjadikan tafsir ini masuk ke dalam jajaran tafsir yang bercorak hukum. Di sisi lain, dari contoh-contoh tersebut juga terlihat bahwa al-Qurt}u>bi> yang bermadzhab Maliki juga ternyata tidak sepenuhnya berpegang teguh dengan pendapat imam madzhabnya.

D. BEBERAPA PANDANGAN TERHADAP TAFSIR AL-QURT{U>BI>

1. Tentang Tafsir Ahkam

Ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam membahas sebuah kitab tafsir ahkam, khususnya dalam tulisan ini adalah tafsir ahkan karya al-Qurt}u>bi>. Pertama, adalah persoalan definisi ah}ka>m (hukum) bila dikaitkan dengan persoalan tafsir. Para ahli biasa mendefinisikan hukum dengan:[30]

خطاب الله المتعلّق بافعال المكلّفين اقتضاءاوتخييرا اووضعا

Dalam definisi tersebut ditegaskan bahwa hukum (menurut ajaran Islam) adalah kehendak Allah, untuk mengatur perbuatan manusia dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Hukum yang merupakan khitab Allah tersebut bagi umat Islam tertuang dalam Al-Qur’an dengan klasifikasi hukum sebanyak 228 ayat.[31] Sekalipun demikian, klasifikasi dan jumlah ayat yang demikian ternyata tidak dapat diterapkan secara mutlak, karena pemahaman seseorang dengan orang lain tidak sama. Lagi pula sebenarnya tafsir tidak lebih dari sekedar membawa diskusi-diskusi fiqh dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Contoh yang demikian dapat ditemui dalam kitab-kitab tafsir klasifikasi tafsir corak hukum, semisal Ah}ka>m Al-Qur’a>n karya Ibn al-’Ara>bi>, al-Jas}s}as} dan al-Qurt}u>bi>. Ketika menafasirkan surat-surat yang terdapat dalam Juz ‘Amma masing-masing dari mereka selalu berbeda dalam memandang sebuah ayat/surat tertentu. Misalnya Ibn al-’Ara>bi> memasukkan surat al-Ikhla>s},[32] Namun al-Jas}s}a>s} tidak.[33] Dan al-Qurt}u>bi> memang sejak awal menafsirkan seluruh ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, jelaslah bahwa di samping riteria ayat hukum antara seorang mufasir yang asatu dengan yang lain selalu berbeda, juga diskusi-diskusi klasik mengenai persoalan-persoalan fiqh selalu lebih mendominasi.

Kembali kapada karya al-Qurt}u>bi> yang menampilkan semua ayat dan selalu membawa kepada diskusi-diskusi fiqh, tidak berarti ia menganggap semua ayat Al-Qur’an adalah ayat hukum. Karena sejak awal ia memang sudah berniat akan menafsirkan seluruh ayat Al-Qur’an dengan menekankan kepada pembahasan-pembahasan hukum, namun bila sebuah ayat tidak menyangkut persoalan hukum tertentu, ia tetap akan menguraikannya secara mendetail.[34]

2. Tentang Syarat Menyebut Sumber Periwayatan

            Persoalan menarik yang terdapat dalam tafsir ini dan perlu dicermati adalah pernyataan yang dikemukakan oleh al-Qurt}u>bi> dalam “muqaddimah” tafsirnya yang berbunyi:[35]

“Syarat saya dalam kitab ini adalah menyandarkan semua perkataan kepada orang-orang yang menyatakannya dan berbagai hadith kepada pengarangnya, karena dikatakan bahwa di antara berkah ilmu adalah menyandarkan perkataan kepada orang yang mengatakannya”

Dengan pernyataan itu, al-Qurt}u>bi> ingin mengingatkan kepada para penulis yang tidak lagi membudayakan penyebutan sumber (Isna>d) dalam penulisan karena adanya persoalan ta’a>s}ub madzhab fiqh maupun teologi. Menurutnya, dengan tidak menyebutkan sumber pengambilan, maka akan mengakibatkan pembaca sulit menilai sebuah pernyataan tersebut. Di kalangan penulis, saat itu ada sebuah kepercayaan tertentu bahwa:

من اسند لك فقدحملك

            Penulis yang telah menyebut isnad berarti terlepas dari tanggung jawab terhadap kebenaran keterangan yang dikemukakannya. Al-Qurt}u>bi> dalam penafsiraanya tampak konsisten dengan syarat yang digariskannya tersebut.

3. Kritik Terhadap Model Tafsir Ahkam

Persoalan lain yang perlu dicermati adalah adanya sejumlah keberatan dari beberapa pihak mengenai keberadaan tafsir corak hukum. Bila Al-Qur’an ini selalu dipandang sebagai kitab suci yang berisi ketentuan perundang-undangan maka akan melahirkan suatu pemisahan yang mekanis antara ayat-ayat yang berisi ketentuan hukum yang tidak ada. Ayat-ayat hukum selalu didekati secara atomistis dan harfiyah, yang pada gilirannya akan menimbulkan sejumlah kebingungan dalam melihat sebuah proses tahapan ajaran Al-Qur’an. Keadaan ini akan menimbulkan adnya konsep-konsep seperti Na>sikh-mansu>kh , ‘a>m-kha>s}, dan dikotomi-dikotomi lainnya.[36] Contoh dari keadaan ini umpamanya ketika ahli hukum menafsirkan ayat 282 Surat al-Baqarah:

…اشتشهدواشهيدين من رجالكم فاءن لم يكونا رجلين فرجل وامرأتان

            Ayat ini di kalangan ahli hukum dijadikan sebagai dasar hukum persaksian serta diterapkan secara ketat, tanpa mau menengok gagasan lain Al-Qur’an seperti keadilan dan persamaan manusia, serta pemahaman seperti ini telah keluar dari konteks kesejarahan.[37]

Akhirnya, pendekatan fiqhiyyah yang bersifat atomistis dan harfiyah dalam kenyataannya telah menimbulkan kesulitan besar bila dihubungkan dengan doktrin bahwa Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

E. PENUTUP

Dari persoalan-persoalan yang telah diuraikan dari beberapa bab di atas dapat dicatat bahwa: pertama, al-Qurt}u>bi pengarang kitab al-Ja>mi’ al-ah}ka>m Al-Qur’a>n adalah seorang mufasir yang bermadzhab Maliki yang hidup di Andalus. Kedua, tafsir yang ditulisnya tersebut menggunakan sisitematika Mus}h}afi>, metode Tah}li>li> dan bercorak fiqh madzhab Maliki dengan tidak terlalu terikat dengan madzhabnya. Ketiga, adanya sejumlah keberatan terhadap sebuah penafsiran yang dilakukan oleh ahli hukum, karena terlalu bersifat atomistis dan harfiyah sehingga sering mengaburkan program besar Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAPHY

Al-’Arabi>, Abu> Bakr  Ibn, Ah}ka>m Al-Qur’a>n, Beirut: Da>r al-Fikr, t.th.

Al-Da>wudi>, T{aba>qah al-Mufasiru>n, Beirut: Da>r al-’Ilmiyyah, t.t.

Al-Farma>wi>, ‘Abd al-Hayyi, al-Bida>yah fi> Tafsi>r al-Mawd}u>’i>, Kairo: Da>r al-Kutub al-’Arabiyah, 1976.

Al-Jas}s}a>s},   Abu> Bakr, Ah}ka>m Al-Qur’a>n, Jilid I. Beirut: Da>r al-Fikr, t.th.

Al-Qat}t}a>n, Manna>’ Khalil, Maba>h}is fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n, t.tp.: Mansyu>rat al-’As{r al-Hadi>th, t.th.}.

Al-Yaqz}an, Abu>, Dira>sah fi> al-Tafsi>r wa rija>lih, t.tp: t.p., t.th.

Al-Qurt}u>bi>, al-Ja>mi’ Li ah}ka>m Al-Qur’a>n. Kairo: Da>r al-Sha>’b, t.th.

Al-Shiddiqi,   Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’antara/Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Al-S{abbu>ni, Muh}ammad ‘Ali, al-Tibya>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n, Beirut: Da>r al-Iftika>r, 1990.

Al-Z{ahabi, Muhammad Husain, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, Jilid II, t.tp: Mat{ba’ah al-Sa’a>dah, 1976.

Al-Zarkashi>, al-Burha>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n, t.tp: Da>r al-Kutub, t.th.

Al-Zarqa>ni>, Mana>h}il al-’Irfa>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n. Beirut: Da>r al-Ihya’ al-Kutub al-’Ara>biyah, t.th.

Bik, Khudari, Tari>kh al-Tashri’ al-Islami>, Beirut: Da>r al-Ihya’ al-Arabiah, t.th.

Darwazah,   Muh}ammad Izzah, al-Tafsi>r al-H{adi>th, Mesir: I<sa> al-Ba>bi al-H{alibi, 1962.

Farh}u>n, Ibn, al-Dibaj al-Muz}ahhab fi> Ma’rifah al-A’ya>n Ulama’ al-Maz}hab, Beirut: Da>r al-Fikr, t.t

Khallaf, ‘Abd al-Wahab, ‘Ilm Us}u>l Fiqh . Kairo: t.p., 1956.

Khalifah, Haji, Kashf al-Zunnu>n ‘antara Asa>mi> al-Kutub wa al-Funu>n, Jilid I Beirut: Da>r al-Fikr, 1994

MTFI Fak. Ushuluddin UNINUS, Tafsir al-Ja>mi’ah, Jilid I, Bandung: Pustaka, 1990.

Wajdi>, Muhammad Farid, Da>’irah al-Ma’a>rif al-Qarn al-’Ishru>n, JIlid VII t.p., t.th.


[1] Muh}ammad ‘Ali al-S{abbu>ni, al-Tibya>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n, (Beirut: Da>r al-Iftika>r, 1990), 73.

[2] Al-Zarkashi>, al-Burha>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n, (t.tp: Da>r al-Kutub, t.th), 13.

[3][3] Al-Zarqa>ni>, Mana>h}il al-’Irfa>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n, (Beirut: Da>r al-Ihya’ al-Kutub al-’Ara>biyah, t.th), 471.

[4] Muhammad Husain al-Z{ahabi, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, Jilid II, (t.tp: Mat{ba’ah al-Sa’a>dah, 1976}, 432.

[5] Khudari Bik, Tari>kh al-Tashri>’ al-Islami>, (Beirut: Da>r al-Ihya’ al-Arabiah, t.th), 113.

[6] Haji Khalifah, Kashf al-Z{unnu>n ‘an Asa>mi> al-Kutub wa al-Funu>n, Jilid I (Beirut: Da>r al-Fikr, 1994), 422.

[7]  Abu> al-Yaqz}an, Dira>sah fi> al-Tafsi>r wa rija>lih, (t.tp: t.p., t.th.), 109. namun menurut informasi al-Da>wudi> ia meninggal di Mesir, al-Da>wudi>, T{aba>qah al-Mufasiru>n, (Beirut: Da>r al-’Ilmiyyah, t.t), 70.

[8]  Hasbi al-Shiddiqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), 291.

[9]  Muhammad Farid Wajdi>, Da>’irah al-Ma’a>rif al-Qarn al-’Ishru>n, JIlid VII (t.tp: t.p., t.th.,), 752. kesalahan kutib Hasbi juga dapat disimpulkan ketika ia menginformasikan kitab-kitab yang ditulis dalam abad-abad tertentu, ternyata ia menginformasikan bahwa kitab al-Ja>mi’ li Ah}ka>m Al-Qur’a>n karya al-Qurt}u>bi ditulis pada abad 7 H. Lihat Hasbi, Sejarah, 248.

[10] MTFI Fak. Ushuluddin UNINUS, Tafsir al-Ja>mi’ah, Jilid I (Bandung: Pustaka, 1990), 164.

[11] Ibn Farh}u>n, al-Dibaj al-Muz}ahhab fi> Ma’rifah al-A’ya>n Ulama’ al-Maz}hab, (Beirut: Da>r al-Fikr, t.t), 317.

[12] Al-Z>{ahabi, al-Tafsi>r, 457.

[13]  Lihat Tafsir ­Al-Ja>mi’ Li Ah}kam Al-Qur’a>n, Jilid I pada halaman judul. (Kairo: Da>r Sya’b, t.th.) terbitan versi ini sebanyak 9 jilid dengan kurang lebih 750 halaman pada masing-masing judul.

[14] Al-Qurt}u>bi>, al-Ja>mi’ Li Ah}ka>m Al-Qur’a>n, Jilid I. Berikatan dengan pemberian judul suatu karya tafsir, terkadang judul yang dikenal dan dicantumkan sebagai judul kitab tersebut bisa jadi diberikan oleh pentah}qiqnya karena mungkin dalam naskah aslinya tidak diketemukan keterangan judulnya. Semisal Ahka>m Al-Qur’a>n karya Ibn al-Arabi dan Ah}ka>m Al-Qur’a>n karya al-Jas}s}a>s}.

[15]  Amin al-Khu>li>, Mana>hij Tajdi>d, (Mesir: Da>r al-Ma’rifah, 1961), 300.

[16] Ibid., 306.

[17]  Muh}ammad Izzah Darwazah, al-Tafsi>r al-H{adi>th, (Mesir: I<sa> al-Ba>bi al-H{alibi, 1962}, I-XII.

[18] ‘Abd al-Hayyi al-Farma>wi>, al-Bida>yah fi> Tafsi>r al-Mawd}u>’i>, (Kairo: Da>r al-Kutub al-’Arabiyah, 1976), 18.

[19] Ibid., 34.

[20] Ibid., 42.

[21]  Bab pertama memuat tujuh buah masalah, bab kedua memuat dua puluh masalah, bab ketiga memuat delapan masalah dan bab keempat memuat tiga puluh enam masalah. Al-Qurt}u>bi>, al-Ja>mi’, 93-131.

[22]  Al-Farma>wi>, al-Bida>yah, 18. Ami>n al-Khu>li>, Mana>hij<, 285. terdapat keberatan terhadap pembagian Al-Farma>wi> ini, karena tafsir al-Ma’thu>r dan al-Ra’yu lebih sesuai apabila masuk dalam kategori pembagian aliran (Tari>qah) bukan corak (lawn).

[23]  Al-Z{ahabi, al-Tafsi>r, 437. Manna>’ Khalil al-Qat}t}a>n, Maba>h}is fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n, (t.tp.: Mansyu>rat al-’As{r al-Hadi>th, t.th.}, 514. Al-Farma>wi>, al-Bida>yah, 25.

[24] Al-Qurt}u>bi>, al-Ja>mi’ Li Ah}ka>m, 94-131.

[25]  Abu> Bakr al-Jas}s}a>s}, Ah}ka>m Al-Qur’a>n, Jilid I (Beirut: Da>r al-Fikr, t.th.), 20.

[26] Abu> Bakr  Ibn al-’Arabi>, Ah}ka>m Al-Qur’a>n, (Beirut: Da>r al-Fikr, t.th), 4-5.

[27]  Al-Qurt}u>bi>, al-Ja>mi’, 301.

[28]  Ibid., 680.

[29]  Ibid., 698.

[30] ‘Abd al-Wahab Khallaf, ‘Ilm Us}u>l Fiqh (Kairo: t.p.., 1956), 112.

[31] Ibid., 34.

[32]  Abu Bakr Ibn al-’Ara>bi>, Ah}ka>m Al-Qur’a>n, Jilid IV, 1983.

[33] Abu> Bakr al-Jas}s}a>s}, Ah}ka>m Al-Qur’a>n, Jilid V, sesudah menafsirkan surat al-Nasr  langsung al-Falaq, 377-378.

[34] Al-Qurt}u>bi>, al-Ja>mi’,  3.

[35]  Ibid.

[36] Taufik Adan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean, Tafsir Kontekstual Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1989), 25.

[37] Ibid., 25.

AL-MUSTADRAK

AL-MUSTADRAK ‘ALA< 

AL-S{AH{I<H{AIN AL-H{AKI<M 


A. PENDAHULUAN

            Sebagai pakar hadith yang muncul ke permukaan pada abad 4 H, al-H{akim al-Naisaburi dengan karya monumentalnya al-mustadrak ‘ala< al-s{ah{i<h{ain, merupakan tokoh yang besar dan tidak bisa dinafikan begitu saja. Meskipun pamor ketenarannya di bawah pengarang-pengarang Kutub al-sittah, tetapi kiprahnya dalam menghadirkan konsep-konsep teoritis dan praktis tetap memberikan kontribusi yang cukup besar dalam ranah kajian hadith maupun ulum al-h}adith pada masa-masa berikutnya.

Untuk itulah tulisan ini akan mengupas secara global kitab al-mustadrak ‘ala< al-s{ah{i<h{ain yang mencakup sekilas biografi al-H{aki>m (nama, nasab dan kurun hidup, guru-guru, murid-murid serta karya-karyanya), dan sekilas tentang al-mustadrak ‘ala< al-s{ah{i<h{ain (latar belakang penyusunan kitab, penamaan kitab, isi, metode dan kriteria, klasifikasi hadith, status hadith dan penilaian para ulama’).

B. SEKILAS BIOGRAFI AL-H{AKI>M

1. Nama, Nasab dan Kurun Hidupnya

            Al-H{aki>m yang memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muh}ammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamdun bin H{akam bin Nu’aim bin al-Bayyi’ al-D{abbi al-T{ahmani al-Naisaburi dilahirkan di Naisabur pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 321 H. beliau sering disebut dengan Abu Abdullah al-H{akim al-Naisaburi atau Ibn al-Bayyi’ atau al-H{akim Abu Abdullah, untuk menghindari kekeliruan al-Hakim lain yang sama, seperti Abu Ahmad al-Hakim, Abu Ali al-H{akim al-Kabir (guru Abu Abdullah al-H{akim), ataupun khalifah Fatimiyyah di Mesir, al-H{akim bin Amrullah.[1]

            Ayah al-H{akim, ‘Abdullah bin Hammad bin Hamdun adalah seorang pejuang yang dermawan dan ahli ibadah serta sangat loyal terhadap penguasa Bani Samman yang menguasai daerah Samaniyyah.[2] Dalam catatan sejarah, daerah samaniyah pada abad 3 telah melahirkan tokoh-tokoh hadith kenamaan semisal al-Bukhari, Imam Muslim, Abu dawud, al-Tirmiz}I, al-Nasa’i serta Ibn majah.[3] Di tempat itu pulalah al-H{akim muncul dan dibesarkan. Kondisi seperti itu pulalah yang sedikit banyak mempengaruhi seorang al-H{akim sebagai pakar hadith abad 4 H.

Masa kanak-kanak al-H{akim di bawah bimbingan dari paman dan ayahnya sendiri. Baru pada usia 13 tahun (334 H), secara spesifik berguru kepada ahli hadith Abu Khatim Ibn H{ibban dan ulama-ulama yang lainnya. al-Hakim melakukan pengembaraan ilmiah ke berbagai wilayah, seperti Irak, Khurasan, Transoxiana dan Hijaz. Kehadiran al-Hakim di berbagai tempat itu untuk dapat berguru langsung dengan para ahli hadith yang ada, agar sanad hadith yang diterimanya memiliki nilai sanad yang ‘ali> (unggul), serta dikarenakan al-H{akim menurut pandangan al-Bukhari yang mensyaratkat liqa’ dalam penerimaan riwayat hadith, meski hanya sekali. [4]

Dalam perjalanan hidupnya selama 84 tahun, al-Hakim melakukan kiprah yang memberi kontribusi cukup besar dalam bidang hadith melalui karya monumentalnya, al-mustadrak ‘ala< al-s{ah{i<h{ain. Namun pada bulan Safar 405 H, atas ketentuan sang pencipta, al-Hakim menghembuskan nafasnya yang terakhir, memenuhi panggilan-Nya.

2. Guru-gurunya

Catatan sejarah mengatakan bahwa al-Hakim telah berguru kepada 1000 orang lebih. Di antara guru-gurunya yang berada di pelbagai daerah adalah: Muhammad bin Ali al- Mudhakkir, Muhammad bin Ya’qub al-’A’s}ham, Nuhammad bin Ya’qub al-Syaibani, Muhammad bin Ahmad bin Balawaih al-Jallab, Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad din Sa’id al-Razi, Muhammad bin atau-Qasim al-Ataki, Abi Ja’far Muhammad bin Muhammad bin Abdillah al-Baghdadi al-Jamal, Muhammad bin Mu’ammal al-Majarisi, Muhammad bin Ahmad bin Mahlub, abi Hamid Ahmad bin Ali bin Hasnawaih,al-Hasan bin Ya’qub al-Bukhari, al-Qasim bin Abi al-Qasim al-Yasari, Abi al-Barr Ahmad bin Ishaq al-Sabaghi, Ahmad bin Muhammad Abdus al-Anzi, Muhammad bin Ahmad al-Syaibi, Abu Ali al-Husain bin Ali al-Naisaburi al-Hafidz, Habib bin Ahmad al-T{u>si, Al- bin Hamsad al-’adalah, Muhammad bin Shalih bin Hani’, Abi NAd Muhammamd bin Muhammad al-Faqih Abi Umar, Utsman al-Baqaq al-Baghdadi>, abu Bakr al-Najjad, Abdullah bin Darustawaih, Abu Sahl bin Ziyad, Abd al-Baqi’ bin Qani’, Abdurrahman bin Hamdan al-Jallab, al-Husain bin Hasan al-Thusi, Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Uqbah al-Syaibani, Muhammad bin Qasim bin Huzaimah al-Kasyi, Abu Qadir al-Ziyadi, al-Qadir Abu Bakr al-Hirri, dan yang lainnya. di antara guru-guru al-H{akim tersebut, al-Daruqut}ni>, Abu Hibban dan Abu Ali al-Naisaburi yang memiliki kedudukan tersendiri di mata al-H{akim, di samping karena intensitas pertemuannya dengan al-H{akim namun juga karena kapasitas keilmuan mereka yang cukup handal.[5]

3. Murid-Muridnya

Al-Hakim juga banyak sekali memiliki murid yang meriwayatkan hadithnya, di antara mereka adalah; Abu al-Falah bin Ubay al-Fawari, Abu al-A’la al-Wasit}i>, Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub, Abu dhar al-Hirawi>, Abu Ya’la> al-Khalili>, Abu Bakar al-Baihaqi,Abu al-Qasim al-Qusyairi, Abu al-Shalih al-Muadhdhin, al-Zakki Abu Hamid al- Bahiri, Mu’ammal ibn Muhammad bin Ubaidillah al-Athra>am, Uthman bin Muhammad al-Mahmi, Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Khalaf al-Syairazi, dan sebagainya.[6]

4. Karya-Karyanya

            Al-H{akim termasuk tokoh intelektual Muslim abad 4 H yang memegang komitmen keilmuannya. Al-H{akim tidak hanya menelorkan karya ilmiah di bidang hadith dengan menyusun kitab hadith an sich. Al-H{akim juga membangun teori-teori, konsep-konsep kes}ah}ih}antara suatu hadith dan mentusun kitab-kitab yang terkait dengannya, semisal kitab ulum al-hadith, kitab rijal al-h}adith maupun kitab ‘ilal al-h}adith.

Di antara kitab-kitab yang pernah ditulis al-H{akim adalah: Takhri>j al-S}ah{ih{ain, Tari>kh al-Naisabur, Fad}a>il Imam al-Syafi’i, Fad}a>il al-Syuyu>kh, Tari>kh ulama’ al-Naisabur, al-Madkhal ila ‘ilm al-S{ah}i>h}, al-Madkhal ila> al-iklil, Ma’rifah ‘Ulum al-Hadith, al-iklil, al-Muzakkina li Ruwat al-Akhbar, al-Mustadrak ‘ala> S}ah}i>h}ain dan lain-lain. Namun sebagaian besar karya tersebut tidak dapat ditemukan. Di antara buah karya yang sampai ke hadapan kita adalah al-Mustadrak ‘ala> S}ah}i>h}ain, al-Madkhal ila al-iklil dan Ma’rifah fi> ‘Ulum al-H{adi>th.[7]

C. KITAB AL-MUSTADRAK ‘ALA> S}AH}I>H}AIN

1. Latar Belakang Penyusunan

Al-Hakim tidak menyebutkan secara eksplisit tentang latar belakang penyusunan kitab al-Mustadrak ‘ala> S}ah}i>h}ain, yang mulai disusun pada tahun 373 H (52 tahun). Namun secara implisit dapat terekam, bahwa inisiatif penulisan tersebut berangkat dari faktor internal, yakni asumsi al-H{akim banyak masih banyak hadith s}ah}ih} yang berserakan, baik yang belum dicatat oleh para ulama, maupun yang sudah tercantum dalam kitab hadith yang ada. Di samping penegasan pengarang S{ah}i>h}ain, Bukha>ri> dan Muslim yang menyatakan bahwa tidak semua hadith s}ah}ih} telah terangkum dalam kitab s}ah}ih}-nya. Dua hal tersebut yang memberikan motifasi bagi al-Hakim untuk menyusun kitabnya berdasarkan kaedah-kaedah ilmiah dalam menentukan keabsahan sanad dan matan.

Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi al-H{akim adalah kondisi politik, intelektual dan ekonomi. Dari segi politik, pada abad 4 H (masa disintegrasi), wilayah Islam terpecah pada 3 kekuasaan besar; Bani Fatimiyyah di Mesir, Bani Umaiyyah di Cordova, dan Bani Abbasiyyah di Baghdad. Ketiganya saling bermusuhan. Hanya saja, instabilitas di bidang politik tidak mempengaruhi minat para intelektual untuk berkarya. Khususnya para intelektual yang berada di daerah Samaniyah.penguasa Saman secara spesifik memberi atensi yang cukup besar dan sangat liberal dalam merespon pengembangan ilmu pengetahuan.[8] Pada saat kitab tersebut ditulis, al-Hakim berada pada masa transisi Dinasti Samani yang bermadzhab Syi’ah ke Dinasti Ghaznawi yang bermadzhab Sunni, meskipun pada abad 4 H ini, tingkat kemajuan intelektual di dunia Islam secara umum mengalami kemerosotan dibanding abad 3 H. hal tersebut justru memacu al-Hakim untuk membangun paradigma baru, khususnya dalam ranah keilmuan hadith.

2. Penamaan Kitab

Bahwa tulisan al-Hakim dinamakan al-Mustadrak artinya ditambahkan atau dususulkan atas al-S{ah}i>h}ain. Al-Hakim menamakan demikian, karena bahwa hadith-hadith yang disusun dalam kitabnya merupakan hadith-hadith s}ah}ih} atau memenuhi syarat kes}ah}ihan Bukhari dan Muslim, dan belum tercantum dalam S{ah}ih} Bukha>ri maupun S{ah}ih} Muslim.

Dengan demikian kandungan hadith dalam al-Mustadrak memiliki beberapa kemungkinan:[9]

(a). Hadith-hadith tersebut tidak terdapat dalam kitab S{ah}ih}ain, baik secara lafal maupun makna, namun terdapat dalam kitab lain.[10]

(b). Hadith-hadith tersebut terdapat dalam S{ah}ih}ain, tetapi dengan lafal yang berbeda meskipun maknanya sama. Sebagai contoh, dalam {S}ah}ih Muslim “Janganlah seorang perempuan mengadakan perjalanan melainkan bersama muhrimnya”; dalam al-Mustadrak dengan makna yang sama menyebutkan: “Janganlah seorang perempuan mengadakan perjalanan yang memerlukan waktu satu malam, melainkan bersama muhrimnya”.[11]

(c). Hadith-hadith tersebut melengkapi lafal hadith yang terdapat dalam S{ah}ih}ain. Seperti hadith tentang perintah mandi pada waktu hendak menunaikan s}alat Jum’at, meskipun dengan makna yang sama ada penambahan keterangan yang cukup rinci dan signifikan tentang latar belakang mengapa Nabi memerintahkan untuk mandi pada hari Jum’ah.[12]

(d). Hadith-hadith tersebut terdapat dalam S{ah{ih}ain, tetapi al=Hakim menggunakan sanad yang berbeda.[13]

3. Isi Kitab

Kitab ini tersusun dalam 4 jilid besar yang bermuatan 8.690 hadith dan mencakup 50 bahasan (kitab). Kitab karya al-Hakim ini termasuk kategori kitab al-Jami’, karena muatan hadithnya terdiri dari berbagai dimensi, aqidah, shari’ah, akhlaq, tafsir, sirah dan lain sebagainya. Adapun rincian jumlah hadith dikaitkan dengan temanya adalah: aqidah 251 hadith, ibadah 1277 hadith, hukum halal haram 2519 hadith, takwil mimpi 32 hadith, pengobatan 73 hadith, rasul-rasul 141 hadith, 1218 hadith tentang biografi sahabat, huru hara dan peperangan 347 hadith, kegoncangan hari kiamat 911 hadith, peperangan nabi dan al-fitan 233 hadith, tafsir 974 hadith dan fad}a>il Al-Qur’an 70 hadith.

Kitab ini pada cetakan terakhir berbentuk 4 jilid besar hasil dari penelitian dan verifikasi beberapa ulama hadith dari lima manuskrip al-Mustadrak-nya al-Hakim. Dalam cetakan yang ada sekarang ini dilengkapi dengan komentar-komentar tambahan dari al-Z{ahabi dan ditah}qiq oleh Mustafa Abdul qadir Atha.

Adapun sistematika kitabnya, mengikuti model yang dipakai oleh Bukhari maupun Muslim, dengan membahas berbagai aspek materi dan membaginya dalam kitab-kitab (tema-tema tertentu) dan sub-subnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

Jilid I:

  1. Kitab Iman; 287 hadith
  2. Kitab Ilmu; 155 hadith
  3. Kitab T{aha>rah; 228 hadith
  4. Kitab S{alat; 352 hadith
  5. Kitab al-Jum’ah; 82 hadith
  6. Kitab S}alat Idain; 29 hadith
  7. Kitab S{alat Witir; 34 hadith
  8. Kitab S{alat Tat}awwu’; 51 hadith
  9. Kitab al-Sahwi; 30 hadith
  10. Kitab S{alat Istisqa’; 30 hadith
  11. Kitab S{alat Kusuf; 17 hadith
  12. Kitab Khauf; 9 hadith
  13. Kitab al-Jana>’iz; 162 hadith
  14. Kitab Zakat; 105 hadith
  15. Kitab S{iy>am; 77 hadith
  16. Kitab Mana>sik; 192 hadith
  17. Kitab Do’a Takbir dan Tahlil; 219 hadith
  18. Kitab Fad}a>’il Al-Qur’antara; 110 hadith

Jilid II;

  1. Kitab Buyu>’; 246 hadith
  2. Kitab Jiha>d; 209 hadith
  3. Kitab Qism al-Fa>’i; 59 hadith
  4. Kitab Qita>l al-Baghy; 28 hadith
  5. Kitab Nikah; 120 hadith
  6. Kitab T{ala>q; 49 hadith
  7. Kitab ‘Itq; 18 hadith
  8. Kitab Maka>tib; 13 hadith
  9. Kitab al-Tafsi>r; 1.129 hadith
  10. Kitab al-Ta>rich; 266 hadith

Jilid III:

  1. Kitab Hijrah; 40 hadith
  2. Kitab al-Magha>zi>; 106 hadith
  3. Kitab Makhluk’rifah al-S{ah}a>bah; 2000 hadith

Jilid IV:

  1. Kitab Ahka>m; 127 hadith
  2. Kitab At}’imah; 128 hadith
  3. Kitab Ashribah; 114 hadith
  4. Kitab al-Birr wa al-S{illah; 114 hadith
  5. Kitab al-Liba>s; 69 hadith
  6. Kitab al-Ti>bahwa; 94 hadith
  7. Kitah al-Ad}a>h{i>; 53 hadith
  8. Kitab al-Z{aba>ih}; 31 hadith
  9. Kitab al-Taubah wa Ina>bah; 78 hadith
  10. Kitab al-’Adab; 121 hadith
  11. Kitab al-Ayma>n wa al-Nuz}u>r; 37 hadith
  12. Kitab al-Riqa>q; 104 hadith
  13. Kitab al-Fara<id; 76 hadith
  14. Kitab al-H{udu>d; 150 hadith
  15. Kitab Ta’bir al-Ru’yah; 95 hadith
  16. Kitab al-Ruqa wa al-Tama>im; 27 hadith
  17. Kitab al-Fitan wa al-Mala>h}im; 383 hadith
  18. Kitab Mala>h}im; 128 hadith
  19. Kitab al-Ah}wa>l; 128 hadith

4. Metode dan Kriteria al-H{akim

Bagaimanapun juga harus diakui bahwa seorang ulama hadith memiliki kriteria ataupun prinsip-prinsip tersendiri dalam menentukan kes}ah}ih}an suatu hadith, di antara prinsip yang dipegangi al-H{akim adalah ijtihad, prinsip status sanad dan prinsip status matan.[14]

a). Ijtihad

Artinya dalam menentukan kes}ah}ih}an suatu hadith diperlukan ijtihad. Prinsip seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru. Al-Ramahurmuzi, al-Baghdadi, Ibn al-Atsir dan yang lainnya sudah menerapkan ini sebelumnya. Dalam al-Mustadrak-nya al-Hakim menyatakan secara lugas:

“Aku memohon pertolongan Allah untuk meriwayatkan hadith-hadith yang para perawinya adalah  thi>qah. Al-Bukhari, Muslim atau salah seorang di antara mereka telah menggunakan para rawi semacam itu untuk berhujjah dengannnya. Ini adalah syarat hadith s}ah}ih} menurut segenap fuqa>ha’ Islam, bahwa sesungguhnya tambahan dalam sanad-sanad dan matan-matan dari orang-orang terpercaya dapat diterima.[15]

Terhadap pernyataan di atas, bbeberapa catatan dikemukakan oleh Abdurrahman;[16]

“Rawi yang thi>qah, yakni rawi yang memiliki kriteria adil (Islam, tidak berbuat bid’ah dan tidak berbuat maksiat) dan d}a>bit} (dapat menerima, menyimpan dan menyampaikan kembali hadith yang didengar dengan baik)”.

Sedangkan makna bi mithliha, ditafsirkan ulama lain sebagai hadith yang benar-benar mengacu pada orang-orang yang menjadi persyaratan Syaikha>n, tetapi ada juga yang berpandangan di samping rija>l yang memenuhi syarat Syaikha>n, sifat-sifat yang sama dengan rija>l yang digunakan Syaikha>n secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri.

Adapun kriteria menurut fuqa>ha’, al-Hakim tidak menjelaskan mengenai hal ini, hanya saja dalam al-Madkhal  dan al-Ma’ri>fah kata-kata fuqa>ha’ sering disebut al-Hakim, padahal dalam pandangan jumhur ulama’ ada perbedaan mendasar antara fuqaha dan ahli hadith. Fuqaha’ cenderung lebih longgar, sementara ahli hadith lebih ketat.

Adapun pengertian Ziya>dah al-Thi>qah, memiliki pengertian adanya tambahan dalam hadith yang tidak ada dalam hadith lain, padahal diambil dari guru yang sama.

b). Prinsip status sanad

Dalam menentukan suatu hadith, al-Hakim menerapkan double standart, yakni tashaddud (ketat) terhadap hadith-hadith yang terkait dengan aqidah dan shari’ah (hukum halal haram, muamalah, nikah dan riqa>q) dan tasa>hul  (longgar) terhadap hadith-hadith yang terkait dengan Fad}a>il al-a’ma>l, sejarah, sejarah rasul dan sahabat, sebgaimana dinyatakan al-Hakim:

“Aku—InsyaAllah—dalam do’a akan memperlakukan (sesuai) dengan madzhab Abdurrahman bin al-Mahdi, yaitu yang mengatakan, “Bila kami meriwayatkan tentang halal dan haram, kami bertindak ketat dalam (menilai) rija>l, dan bila kami meriwayatkan tentang keutamaan amal dan mubah, kami longgar dalam menilai sanad-sanad.[17]

c). Prinsip Status Matan

Al-Hakim menyatakan:

“Sesungguhnya hadith s}ah}ih} itu tidak hanya diketahui dengan kes}ahih}antara riwayat, tetapi juga dengan pemahaman, hafalan dan banyak mendengar”.[18]

Prinsip meneliti hadith tidak hanya pada aspek sanadnya saja, pada akhirnya melahirkan konsep ra>jih}-marjuh}, na>sikh-mansukh, mukhtalif al-hadith, maqlub, mud}t}arib, mudraj dan ta’atau>ruj al-hadith untuk menentukan dan membedakan hadith yang ma”mul dan ghair ma’mul bih.

5. Kalsifikasi Hadith

Berbeda dengan ulama-ulama sebelumnya (pasca Imam Turmuz{i}, al-Hakim tidak mengklasifikasikan hadith menjadi s{ah}ih{, h}asan dan d{a’i>f. Secara eksplisit al-Hakim membagi hadith menjadi 2, yakni hadith s}ah{ih} dan hadith d{a’i>f. hadits s}ah{ih} itu bertingkat-tingkat, ada yang disepakati kes{ah}ihannya dan ada pula yang tidak disepakati (h{asan). Dengan demikian, dalam pandangan al-Hakim, hadith h}asan termasuk hadith s{ah}ih. Meskipun al-Hakim pernah menyebut ghari>b h{asan, namun tidak dijelaskan apa maksud dari pernyataan al-Hakim itu.

Al-Hakim berbeda dengan para ulama hadith pra-Turmuz}i, yang sama-sama mengklasifikasikan hadith menjadi s}ah}ih}-d}o’if, dan memasukkan kategori h}asan pada hadith d{o’if yang masih bisa diamalkan. Fenomena inilah yang nampaknya mendasari penilaian terlalu longgarnya al-Hakim dalam menentukan hadith, karena memasukkan kategori hadith h}asan ke dalam hadith s}ah}ih}.

6. Status Hadith

            Untuk mengetahui kes}ah}ih}an hadith dalam al-Mustadrak, ada beberapa klasifikasi yang ditampilkan ulama hadith setelah melakukan penelitian terhadap kitab al-H{akim:

a). Berdasarkan Syarat Rawi

Berdasarkan penelitian al-Z{ahabi jumlah hadith dalam al-Mustadrak yang memnuhi kriteria S{ah}ihain  985 hadith; 113 hadith memenuhi kriteria Bukhari; 571 hadith memenuhi kriteria Muslim; 3447 hadith dinilai S}ah}ih} al-isna>dan, sedangkan yang lain tidak dinilai oleh al-Z{ahabi.[19]

(I). Hadith yang sesuai dengan syarat S{ah}ih}ain[20]

Secara lugas al-Hakim menggunakan lafal h}a>za> h}adith s}ah}ih} ‘ala syart}i al-shaikhaini wa lam yakhrujahu (hadith ini memenuhi persyaratan Bukhari Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya). Jumlah hadith yang memenuhi persyaratan Bukhari Muslim 985 hadith. Dalam talkhis-nya seringkali al-Z{ahabi menunjukkan kekeliruan yang dilakukan al-Hakim, semisal al-Hakim menyebut rawi tertentu sebagai rija>l Muslim, tetapi setelah diteliti sama sekali Muslim tidak menggunakan rija>l tersebut.

(II). Hadith yang sesuai syarat Bukhari saja[21]

Terhadap hadith yang memenuhi persyaratan al-Bukhari, al-Hakim menyatakan: h}a>za> h}adith ‘ala shart} al-Bukha>ri wa lam yakhrujahu (hadith berdasarkan syarat al_Bukhari, tetapi Bukhari dan mUslim tidak meriwayatkannya. Dalam hal ini al-Hakim tidak memeberikan rincian lebih lanjut terhadap pernyataan di atas.

(III). Hadith yang sesuai dengan syarat Muslim[22]

al-Hakim juga memasukkan hadith yang sesuai dengan syarat Muslim, dengan menyatakan: h}a>za> h}adith ‘ala Shart} al-Muslim wa lam yakhrujahu (hadith ini berdasarkan syarat Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya).

(IV). Hadith yang sesuai dengan syarat al-Hakim

Al-Hakim menggunakan lafal h}a>za> hadith s}ah}ih} al-isna>d wa lam yakhrujahu (hadith ini s{ah}ih{ sanadnya, tetapi Bukhari Muslimtdk meriwayatkannya). Al-Hakim sendiri, sebagaimana tiga statemen sebelumnya, tidak memberikan penjelasan lebih detail sehingga para ulama berusaha menginterpretasikan maksud pernyataan al-Hakim. Menurut beberapa ulama, hadith yang dimaksud ialah h}adith s}ah}ih} dalam pandangan al-Hakim, yang akan diteliti ulang tetapi kematian menjemputnya lebih awal. Dengan demikian berdasarkan hasil penelitian ulama berikutnya, terhadap hadith-hadith tersebut ada yang menilai s}ah}ih} dan ada yang menilai d}a>’if.[23]

(V). Hadith yang tidak dinilai al-Hakim

Menurut al-S{an’a>ni, [24] hadith tersebut belum sempat dievaluasi ulang oleh al-Hakim, dan al-Hakim belum sempat mengemukakan komentarnya dalam al-Mustadrak, karena kematian yang menjemputnya. Dengan demikian tdj semua hadith dalam al-Mustadrak dinilai al-Hakim. Itu berarti al-Hakim sendiri mengakui bahwa hadith-haith yang dihimpunnya secara keseluruhan tidak sama statusnya (atau dengan kata lain tidak semuanya s{ah}ih). Maka dikarenakan belum semua hadith al-Hakim dievaluasi ulang olehnya, maka anjuran al-Hakim agar al-Mustadrak diteliti kembali menjadi relevan untuk dilakukan.[25]

b). Berdasarkan Kualitas Rawi

Al-Z{ahabi mengklasifikasikan rawi yang di-jarh} menjadi 63 kategori. Mulai dari d}o>’if, Layyin, sampai tingkat kaz}z}ab yada’u al-H{adith (pendusta yang memalsukan hadith).

Berdasrakan penelitian yang dilakukan oleh Al-Z{ahabi terhadap kualitas rawi-rawi dari kitab al-Hakim adalah sebagai berikut:[26]

Jilid I: Terdapat 45 hadith yang diduga lemah (8 hadith menggunakan sighat mawd{u’; Munkar 23 hadith; matruk 13 hadith; laysa thabit 1 hadith).

Jilid II: Terdapat 66 hadith yang diduga lemah (mawd{u’  11 hadith; munkar  23 hadith; matruk 23 hadith; kaz}z{ab 4 hadith; La> Yu’rafu 3 hadith; La> a’rifu jayyidan 2 hadith)

Jilid III: Terdapat 40 hadith yang tidak layak digunakan; mawd}u’ 4 hadith; Qabbah}a Allah Rafi>diyan iftara’u>  1 hadith; ah}sibu mawd}u>’a wa az}unnu wad}u>’antara 6 hadith; shibhu mawd}u’  1 hadith; aina s{ih}ah} wa h}aramun fihi 1 hadith; munkar  17 hadith; matruk 17 hadith.

Jilid IV: Terdapat 109 hadith yang tidak layak digunakan; La as}la lahu 2 hadith; h}alik 11 hadith; La ih}tajja bihi ah}ad 1 hadith; La H{ujjah 1 hadith; matruk 30 hadith; mawd}u’ 22 hadith; munkar 35 hadith; Muttaham 4 hadith; Muttaham saqit} 1 hadith; Muttaham ta’lif 1 hadith; Nadar 1 hadith.

            Dengan demikian jumlah hadith yang dianggap sangat lemah dalam al-Mustadrak adalah 3,072% dari 8690 hadith yang ada. Sedangkan hadith-hadith yang lain ada yang bernilai s}ah}ih}, h}asan, s}alih}, jayyid, d}a>’if, munkar  maupun bat}il. Pun demikian, ternyata al-Hakim banyak memasukkan hadith mawd}u’. Menurut  Ibn al-Jawzi ada 60 hadith, al-Z{ahabi berpendapat kurang lebih 100 hadith dan menurut Abdurrahman secara eksplisit yang menggunakan kata mawd}u’/kaz}z}ab ada 87 hadith.

Adapun rincian hadith mawd}u’ berdasarkan penelitian Abdurrahman adalah masing-masing 1 hadith dalam bab ‘i>dain, tat}awwu’, do’a-do’a, Faro’id, Hudu>d, Buyu>’, Nikah, Jihad, memerangi pemberontak, Fad}a>il Al-Qur’an dan al-Ahwa>l. Adapun  sejarah dan peperangan 41 hadith; tafsir 10 hadith; Riqa>q 5 hadith; Al-Fitan wa al-mala>him 5 hadith; s}alat 5 hadith; pengobatan 30 hadith dan makanan 2 hadith.[27]

7. Penilaian Para Ulama

Sebagaimana karya-karya monumental lainnya, karya al-Hakim tidak lepas dari kritik yang menyanggung dan kritik yang menghujat. Pujian yang ditujukan kepada al-Hakim, terbukti dari gelar yang dinisbahkan kepadanya oleh para muridnya dan oleh para ahli hadith semasa dan sesudahnya, yakni dengan  menyebut al-Hakim sebagai al-H{a>fiz} al-kabi>r, al-Na>qid, al-Shaykh al-Muh}addithi>n, dan sebagainya. Sedangkan di antara ulama yang menghujat adalah:

-         Al-Baihaqi yang merupakan murid al-hakim, tidak sepakat sepenuhnya bahwa al-Mustadrak merangkum hadith yang memenuhi persyaratan Shaikha>ni (Bukhari Muslim).

-         Abu Sa’id al-Ma>lini (w. 412 H) mengatakan bahwa dalam al-Mustadrak tidak ada hadith s}ah}ih} yang memnuhi syarat s}ah}ih}ain. Sebagaimana pernyataannya: “Aku telah meneliti al-Mustadrak dari awal sampai akhir, dan ternyata tidak ada satupun hadith yang memenuhi persyaratan s}ah}ih}ain.

-         Al-Z}ahabi, meski juga mengkritik al-Hakim, tetapi menganggap hujatan al-Ma>lini terlalu berlebihan. Berdasar penelitian al-Z{ahabi, kursng lebih setengahnya yang memenuhi persyaratan Bukhari Muslim, Bukhari atau Muslim saja.

-         Muhammad bin Tahir menilai al-Hakim Rafid}I khabith (Pengikut Syi’ah Rafid{ah yang jahat), pura-pura Sunni, padahal pengikut Ali yang fanatic dan tidak menyukai Muawiyah.[28]

-         Abdullah Ismail bin Muhammad al-Ans}a>ri menilai al-Hakim adalah rawi yang thi>qah, faqih, h}a>fiz}, h}ujjah, rafid}ih khabit.

Secara global pada umumnya para ulama’ hadith semasa dan pasca al-Hakim banyak mengkritik kelonggaran al-Hakim dalam menilai kes}ah}ih}an suatu hadith. Juga berdasarkan penelitian al-Z{ahabi yang melihat al-hakim seringkali melakukan kekeliruan, semisal dinyatakan sesuai syarat s}ah}ih}ain, padahal setelah diteliti sesuai syarat Bukharu saja.

D. KESIMPULAN

Berdasarkan kupasan di atas, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi: Pertama, bahwa meskipun al-Hakim bermaksud menyusun hadith s{ah}ih} sebagai tambahan yang belum termuat dalam s}ah}ih} Bukhari dan Muslim dan menggunakan persyaratan s}ah}ih}ain, namun tidak semua hadith di kitabnya berstatus sama (s{ah}ih} semua). Ada yang memenuhi kriteria syarat s}ah}ih}ain¸ada yang memenuhi syarat salah satu dari s}ah}ih}ain, ada yang s}ah}ih} menurut al-Hakim sendiri dan ada yang belum dinilai al-Hakim. Itupun tidak semua ulama sepakat dengan ijtihad penilaian al-Hakim, khususnya al-Z{ahabi yang banyak mengulas kitab al-Hakim.

Kedua, adanya standar ganda yang digunakan sebagai bentuk ijtihad al-Hakim, yakni tasa>hul sebagai terhadap hadith-hadith Fad}a>’il al-a’ma>l, sejarah Rasul dan sahabat serta sejarah masa silam. Tashaddud untuk persoalan aqidah dan shari’ah (halal, haram, nikah, riqah, mu’amalah), sering menjadikan perbedaan pandangan di antara para pakar hadith dan menjadikan mereka beranggapan al-Hakim terlalu longgar dalam menerapkan kaedah kes}ah}ih}antara hadith. Terlebih beberapa ulama hadith menemukan ketidak konsisten al-Hakim, yang tasa>hul terhadap persoalan aqidah dan shari’ah, dan banyak memasukkan hadith yang sangat lemah (267 hadith), termasuk hadith mawd}u>’ meskipun jumlahnya kurang lebih hanya 87 hadith.

Ketiga, al-Hakim mengklasifikasikan hadith menjadi dua, s}ah}ih} dan d}a>’if. Untuk hadith hasan (sebagaimana klasifikasi Turmuz{i), dimasukkan dalam kriteria hadith s}ah}ih} yang tidak disepakati kes}ah}ih}annya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan dari kitab al-Mustadrak ‘ala> s}ah}ih}ain, terlepas dari pujian dan kritikan yang dilontarkan kepadanya, langkah al-Hakim merupakan keberanian besar seorang pakar hadith untuk memberikan kontribusi dan wacana baru  di ranah dan ‘ulu>m al-h}adith bagi pengkaji hadith berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAPHY

 

Abdurrahman, M, Pergeseran Pemikiran hadith Ijtihad al-Hakim Dalam Menentukan Status Hadits, Jakarta: Paramadina, 2000.

Al-Asqala>ni>, Ibn H{ajar, Bulu>gh al-Mara>m, Mesir: Da>r al-Kutub ‘Arabiyyah, t. th.

Al-Naisaburi, al-Hakim, Al-Madkhal ala> kita>b al-ikli>l, Iskandariyah: Da>r al-Dakwah, t.th.

Al-S}an’a>ni, Tawd}i>h al-Afka>r, Jilid I, Mesir: Maktabah al-Khanaji, 1336 H.

Al-Z}ahabi, al-Mu>’in fi> t}aba>qah al-Muh}addithi>n, t. kp: Da>r al-S}ah}wa>t, 1987.

Katsir, Ibn, al-Bida>yah wa al-Niha>yah. Jilid XI, Beirut: Da>r al-Fikr, 1977.

——————————-al-Mustadrak ‘ala> s}ah}ih}ain, Jilid I, Beirut: Da>r al-Fikr, 1978.

——————————-Kitab al-Ma’rifah fi> ‘ulu>m al-Hadith, Madinah: al-Maktabah ‘ilmiyah, 1977.


[1] Al-Z{ahabi, al-Mu’in fi T{aba>qat al-Muh}addithi<<>n, (t.tp.: Da>r al-Shahwat, 1987), 173&178.

[2]  Ibn Katsir, al-Bida>yah wa al-Nihaya>yah, vol. 11 (Beirut: Da>r al-Fikr, 1977),. 220.

[3]  M. Abdurrahman, Pergeseran Pemikiran Hadis Ijtihad al-H{akim dalam menentukan status Hadits (Jakarta: Paramadina, 2000), 29

[4]  Ibid., 30-31.

[5]  Ibid., 33-34.

[6]  Ibid., 35.

[7]  Ibid., 54.

[8]  Ibn Kath>ir, Al-Bida>yah, 2-3.

[9]  Abdurrahman, Pergeseran, 57-61.

[10]  Ibid., 57-58. Lihat Ibn Hajar al-’Asqala>ni, Bulugh al-Mara>m, (Mesir: Da>r al-Kutub al-’Arabiyah, t.th), 14.15 dan 17; yang banyak memuat hadith yang tidak tercantum dalam S{ah}ih}ain, tetapi termaktub dalam kita Sunan Abu Dawud, Sunan Turmuz}I, Sunan Nasa’i, Sunan Ibn Majah, Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Al-Mustadrak al-Hakim, dan sebagainya.

[11]  Ibid., 58-59.

[12]  Ibid., 59-60.

[13] Ibid., 60-62.

[14]  Ibid., 89-116.

[15]  Al-H{akim al-Naisaburi, al-Madkhal ila> Kita>b al-iklil (Iskandariyah: Da>r al-Da’wah, t.th.), 2.

[16]  Abdurrahman, Pergeseran, 93-104.

[17]  Al-Hakim al-Naisaburi, al-Mustadrak ‘ala> al-S{ah}i>h}ain (Beirut: Da>r al-fikr, 1978), 59-60.

[18]  Al-Hakim al-Naisaburi, Kita>b al-Makhluk’rifah fi ‘Ulu>m al-H{adith (Madinah: al-Maktabah al-’Ilmiyah, 1977), 59-60.

[19]  Abdurrahman, Pergeseran, 217.

[20]  Ibid., 216-217.

[21]  Ibid., 219-220.

[22]  Ibid., 220-221.

[23]  Al-Hakim al-Naisaburi, al-Mustadrak, Jilid I, 3.

[24]  Al-S{an’a>ni, Taud}ih} al-Afka>r, Jilid I (Mesir: Maktabah al-Khanaji, 1336 H), 68.

[25]  Abdurrahman, Pergeseran, 223.

[26]  Ibid., 226-227.

[27]  Abdurrahman, Pergeseran, 230-231.

[28]  Al-Hakim, Muqaddimah Ma’rifah, shw.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.